Wednesday, February 17, 2010

Sebuah Tanya ( Soe Hoek Gie)

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembahh Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

Mandalawangi-Pangrango (Soe Hoek Gie)

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu

aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
“tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Wednesday, December 9, 2009

Kepingan Hati

KEPINGAN HATI I

Engkau laksana angin
Hanya bisa kurasakan hembusanmu di sekelilingku,
Tetapi tak bisa aku genggam
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh di belakang)

Beku
Beku
Beku
Pagi ini aku beku
Terbangun dalam beku
Mimpikanmu
Lagi
Lagi
Dan lagi
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)

Teriakku di alam mimpi
mendung hitam menutup rapat hati
menangis
tidak ada senyum lagi hari ini!!!
Bintang itu telah pergi
Atau menghilang karena tertutup pekatnya malam?
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)

Aku terduduk di depan pintu
Seperti mengharap sesuatu datang
Tapi apa
Apa
Apa
Apa lagi yang harus aku tunggu sekarang
Ya, bintang itu telah lenyap kemarin
Meninggalkanku sendiri dalam pekatnya malam
Tanpa tanda
Tanpa arah
Aku tersesat
Dalam pekatnya malam yang kejam
Tak tahu harus berbuat apa lagi
Aku menyerah
Kalah
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)

Aku membeku
Dalam dinginnya udara pagi yang menusuk tulang
Sungguh
Aku merindukan bintang itu
Aku merindukan hangat sinarnya
Aku merindukan gemerlap tawanya
Aku merindukan pesonanya temani hari-hariku lagi
Tapi bintang itu kini telah menghilang
Lenyap bersama datangnya fajar di ufuk timur
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)