Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembahh Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969
Wednesday, February 17, 2010
Mandalawangi-Pangrango (Soe Hoek Gie)
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
“tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
“tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
Wednesday, December 9, 2009
Kepingan Hati
KEPINGAN HATI I
Engkau laksana angin
Hanya bisa kurasakan hembusanmu di sekelilingku,
Tetapi tak bisa aku genggam
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh di belakang)
Beku
Beku
Beku
Pagi ini aku beku
Terbangun dalam beku
Mimpikanmu
Lagi
Lagi
Dan lagi
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Teriakku di alam mimpi
mendung hitam menutup rapat hati
menangis
tidak ada senyum lagi hari ini!!!
Bintang itu telah pergi
Atau menghilang karena tertutup pekatnya malam?
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Aku terduduk di depan pintu
Seperti mengharap sesuatu datang
Tapi apa
Apa
Apa
Apa lagi yang harus aku tunggu sekarang
Ya, bintang itu telah lenyap kemarin
Meninggalkanku sendiri dalam pekatnya malam
Tanpa tanda
Tanpa arah
Aku tersesat
Dalam pekatnya malam yang kejam
Tak tahu harus berbuat apa lagi
Aku menyerah
Kalah
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Aku membeku
Dalam dinginnya udara pagi yang menusuk tulang
Sungguh
Aku merindukan bintang itu
Aku merindukan hangat sinarnya
Aku merindukan gemerlap tawanya
Aku merindukan pesonanya temani hari-hariku lagi
Tapi bintang itu kini telah menghilang
Lenyap bersama datangnya fajar di ufuk timur
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Engkau laksana angin
Hanya bisa kurasakan hembusanmu di sekelilingku,
Tetapi tak bisa aku genggam
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh di belakang)
Beku
Beku
Beku
Pagi ini aku beku
Terbangun dalam beku
Mimpikanmu
Lagi
Lagi
Dan lagi
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Teriakku di alam mimpi
mendung hitam menutup rapat hati
menangis
tidak ada senyum lagi hari ini!!!
Bintang itu telah pergi
Atau menghilang karena tertutup pekatnya malam?
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Aku terduduk di depan pintu
Seperti mengharap sesuatu datang
Tapi apa
Apa
Apa
Apa lagi yang harus aku tunggu sekarang
Ya, bintang itu telah lenyap kemarin
Meninggalkanku sendiri dalam pekatnya malam
Tanpa tanda
Tanpa arah
Aku tersesat
Dalam pekatnya malam yang kejam
Tak tahu harus berbuat apa lagi
Aku menyerah
Kalah
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Aku membeku
Dalam dinginnya udara pagi yang menusuk tulang
Sungguh
Aku merindukan bintang itu
Aku merindukan hangat sinarnya
Aku merindukan gemerlap tawanya
Aku merindukan pesonanya temani hari-hariku lagi
Tapi bintang itu kini telah menghilang
Lenyap bersama datangnya fajar di ufuk timur
(Birunya 8 Desember 2009, dalam kenangan akan seseorang yang telah meninggalkanku jauh dibelakang)
Subscribe to:
Comments (Atom)
